Rezeki merupakan rahmat Allah SWT bagi seluruh makhluk-Nya saat
menjalani hidup di dunia. Tidak hanya melulu persoalan uang, rezeki juga
bisa dalam bentuk kesehatan, keluarga yang rukun, anak-anak yang saleh
dan hal-hal membahagiakan lainnya.
Rezeki tentu tidak datang begitu saja, namun harus dicapai dengan usaha
dan kerja keras. Allah SWT memerintahkan hamba-Nya agar berlaku halal
dalam mencari rezeki. Dengan demikian, apa yang didapatkan akan
mendatangkan ketenangan dan menjadi berkah.
Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Ibnu Majah,
Imam ath-Thabrani, Imam Ibnu Hibban, dan Imam al-Hakim, Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya seseorang
dihalangi dari rezekinya disebabkan dosa yang dia perbuat.”
Adapun alasan dosa bisa menjadi penghalang rezeki yang pertama, karena orang yang berbuat dosa jauh dari istighfar atau memohon ampun kepada Allah SWT. Pada dasarnya istighfar sebagai penghapus dosa menjadi jalan terbukanya rezeki. Jika bertaubat menjadi pembuka jalan untuk mendapatkan kelimpahan rezeki, maka berdosa bermakna membatalkan semua itu.
Adapun alasan dosa bisa menjadi penghalang rezeki yang pertama, karena orang yang berbuat dosa jauh dari istighfar atau memohon ampun kepada Allah SWT. Pada dasarnya istighfar sebagai penghapus dosa menjadi jalan terbukanya rezeki. Jika bertaubat menjadi pembuka jalan untuk mendapatkan kelimpahan rezeki, maka berdosa bermakna membatalkan semua itu.
Rasulullah SAW dalam hadist riwayat Ahmad yang artinya “Barang siapa
yang memperbanyak membaca istighfar maka Allah akan menjadikan segala
kesusahan, menjadi kemudahan dan dari segala kesempitan Allah menjadikan
jalan keluar dan Allah akan memberi rezeki untuknya dari yang dia
sangka maupun yang tidak dia sangka”.
Sebab yang kedua yaitu terhalangnya seorang hamba dari rasa nikmat atas banyak rezeki yang diberikan oleh Allah Ta’ala. Maknanya adalah orang tersebut tetap diberikan rezeki dari Allah SWT, namun rasa nikmatnya telah dicabut. Itulah yang menyebabkan meskipun ia berlimpah rezeki namun tetap terasa hambar.
Sebab yang kedua yaitu terhalangnya seorang hamba dari rasa nikmat atas banyak rezeki yang diberikan oleh Allah Ta’ala. Maknanya adalah orang tersebut tetap diberikan rezeki dari Allah SWT, namun rasa nikmatnya telah dicabut. Itulah yang menyebabkan meskipun ia berlimpah rezeki namun tetap terasa hambar.
Bahkan hal tersebut membuat dirinya semakin haus dan berhasrat untuk
menumpuk harta sebanyak-banyaknya tanpa ada rasa syukur kepada Allah
SWT. Tidak hanya itu, dalam usahanya mendapatkan apa yang diinginkan
mereka cenderung tidak sabar.
Padahal sebenarnya Allah sudah mengatur rezeki setiap umatnya dan akan memberikan jatah rezeki tersebut apabila sudah tepat waktunya. Coba renungkan perkataan Ibnu ‘Abbas berikut ini. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,
“Seorang mukmin dan seorang fajir (yang gemar maksiat) sudah ditetapkan rezeki baginya dari yang halal. Jika ia mau bersabar hingga rezeki itu diberi, niscaya Allah akan memberinya. Namun jika ia tidak sabar lantas ia tempuh cara yang haram, niscaya Allah akan mengurangi jatah rezeki halal untuknya.” (Hilyatul Auliya’, 1: 326)
Padahal sebenarnya Allah sudah mengatur rezeki setiap umatnya dan akan memberikan jatah rezeki tersebut apabila sudah tepat waktunya. Coba renungkan perkataan Ibnu ‘Abbas berikut ini. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,
“Seorang mukmin dan seorang fajir (yang gemar maksiat) sudah ditetapkan rezeki baginya dari yang halal. Jika ia mau bersabar hingga rezeki itu diberi, niscaya Allah akan memberinya. Namun jika ia tidak sabar lantas ia tempuh cara yang haram, niscaya Allah akan mengurangi jatah rezeki halal untuknya.” (Hilyatul Auliya’, 1: 326)
