1. Ayat pertama dalam Al-Fatihah, yakni Basmalah.
memberi pelajaran agar kita memulai setiap pekerjaan dengan mengucapkan Basmalah sehingga terjalin hubungan yang erat antara si pengucap/pembaca dengan Allah swt, dan dengan penyebutan kedua sifat-Nya Ar-Rahman tertancap dalam hati si pembaca bertapa besar rahmat Allah sehingga semestinya pembaca tidak akan berputus asa betapapun berat dan sulit yang dihadapinya.
2. Ayat kedua surat Al-Fatihah, Alhamdullilah yang artinya: segala puji bagi Allah
adalah pengajaran agar seorang selalu menyadari betapa besar rahmat dan anugerah Allah kepada-Nya. Sehingga bila sesekali mengalami suatu yang tidak menyenangkannya, maka ia akan teringat rahmat dan nikmat Allah yang selama ini dinikmatinya.
3. Redaksi pesona ketiga pada kalimat Al Hamdullilah dalam arti si pemuji tidak berhadapan langsung dengan Allah, memberi pelajaran bahwa memuji tanpa kehadiran yang dipuji lebih baik daripada memuji dihadapannya.
sedangkan ayat kelima, Iyyaka nasta'in yang artinya hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan, dikemukakan dalam bentuk pesona kedua, dalam arti Allah hadir dan si pemohon berhadapan langsung dengan Allah.
4. penyataan bahwa Allahadalah Rabbil alamin atau Tuhan pemelihara seluruh alam memberi pelajaran bahwa Allah mengurus, memelihara, dan menguasai seluruh jagad raya.
5. Firman-Nya bahwa Allah pemilik hari kemudian mengajarkan antara lain bahwa kuasa-Nya ketika itu sangat menonjol sehingga tidak satupun yang mengingkari-Nya, tidak juga seseorang dapat membangkang (berbeda dengan di dunia), sebagaimana ia mengajarkan juga bahwa tidak seorangpun yang dapat mengetahui kehidupan di sana kecuali bila diberi tahu melalui wahyu oleh Allah atau penyampaian nabi dan bahwa kedatangan hari itu adalah suatu rahasia yang tidak diketahui kecuali oleh Allah semata.
6. Kata"Kami" pada ayat ke-5: "hanya kepada-Mu kami mengabdi dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan, " mengandung beberapa pesan tentang kebersamaan antarumat yang menjadikan setiap Muslim harus memiliki kesadaran sosial, yang menjadikan keakuannya lebur secara konseptual bersama aku-aku lainnya. setiap muslim, dengan demikian, menjadi seperti satu jasad yang merasakan keperihan bila satu organ menderita penyakit.
7. Ayat ke-7 surah ini mengajarkan agar menisbahkan segala yang baik kepada Allah swt, sedang yang buruk harus dicari lebih dahulu penyebabnya. ini dipahami dari penisbahan pemberian nikmat kepada-Nya; " jalan orang-orang yang engkau beri nikmat", sedang menyangkut murka tidak dinyatakan: "yang engkau murkai", tetapi "Yang dimurkai".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar